Maknai Sumpah Pemuda, Cara Anak Muda Mencegah Terorisme

“BERI AKU SEPULUH PEMUDA MAKA AKAN AKU GUNCANG SELURUH DUNIA”

Sebuah statement tokoh nasionalis Indonesia menunjukkan optimisme yang begitu besar terhadap pemuda. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran generasi muda saat itu menjadi kunci kemerdekaan Indonesia. Yang muda yang berpikir, yang muda yang bekerja, yang muda yang memepunyai ide kreatifitas, yang muda yang mempunyai semangat perjuangan. Darah muda yang bergejolak di dalam darah tidak bisa ditolak. Pada fase inilah puncak kejayaan sebuah siklus kehidupan manusia dan aku sedang berada di dalamnya.

Ibarat sehelai daun di sebuah ranting pohon. Tidak ada yang tahu seberapa lama akan bergelantungan disana selain Sang Pencipta. Namun selama ia belum terlepas akan terus memberikan fungsi bagi pohon untuk berfotosintesis. Peran yang sungguh luar biasa memberi kehidupan untuk orang lain. Aku berbicara tentang Oksigen yang mereka keluarkan. Tidak terlihat tapi sangat nyata untuk dirasakan bagi kelangsungan hidup manusia dan hewan.

Begitu pula pada generasi muda saat ini. Besar harapan digantungkan untuk menjadi Agent of Change. Perubahan yang bagaimana? Tentu ke arah yang baik dan positif. Bukan menjurus kepada hal- hal yang berbau konten negatif, misalnya terorisme yang marak menebar ancaman belakangan ini.

Menurut BNPT terorisme merupakan suatu cara atau strategi yang digunakan kelompok radikal dalam bentuk aksi dan ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan  tertentu dengan cara menanamkan ketakutan dan teror dengan korban acak yang menyebabkan rasa ketidak amanan di tengah masyarakat. Teroris biasanya bekerja dalam kelompok dengan jaringan luas baik nasional maupun internasional. Annggotanya kebanyakan adalah anak muda yang notabene masih dalam tahap mencari kebenaran dan jati diri. Pemahaman yang salah akan memudahkan seorang anak muda terjerumus dalam lembah terorisme. Isu yang diangkat kebanyakan seputar politik dan agama. Maka muncullah generasi muda dengan pahan ekstremis dan pemikiran yang radikal sampai menciptakan kelompok teroris. Anak muda yang seperti ini adalah daun yang tidak menjalankan fungsi dan perannya untuk hal yang berguna. Justru merugikan bahkan menyebabkan kekacauan sampai kematian. Ia bergantung pada ranting yang salah.

Lantas peran seperti apa yang dimainkan anak muda untuk melawan dan mencegah terorisme ini? Pertanyaan untukku, dan para generasi muda yang sedang berada diluar sana. Inilah waktu kita. Jadilah daun yang memberikan oksigen bagi kehidupan.

Lalu ingtkah kalian dengan sumpah pemuda? Dua Puluh Delapan Oktober itu sebentar lagi. Ingatkah kalian dengan tiga butir sumpah delapan puluh tujuh tahun silam. Apakah sumpah pemuda hanya untuk mereka yang muda saat itu? Sementara tidak adalagi yang tersisa selain warisan kata-kata. Tentu tidak. Adalah dengan memaknai isinya kita dapat berperan dalam pencegahan terorisme.

  1. KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA.

Tanah airku Indonesia. Negeri elok amat kucinta…Rayuan Pulau Kelapa khas lantunan lagu daerah kita. Kalau cinta Indonesia, nyanyikan lagu nasional, jangan mp3 lagu barat melulu yang dijejalkan telinga kita. Ciptakan komunitas atau begabung pada kelompok dengan kegiatan positif. Jaga budaya kita. Syukuri hutan Indonesia terluas sebagai paru-paru dunia. Jangan dibakar. Aktivitas itu adalah sebagian kecil dari tindakan yang bisa kita realisasikan. Anak muda harus berperan aktif dalam komunitas yang kegiatannya baik. Dengan kekuatan ikatan positif dalam komunitas tersebut, kelompok terorisme tidak akan mudah menyusup.

  1. KAMI PUTRA PUTRI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA.

Walaupun berbeda-beda tapi tetap satu juga. Pita dalam genggaman Sang Garuda menyaratkan keragaman suku, agama, dan ciri khas masing-masing daerah. Tapi keragaman itu tidak lantas menjadi pembeda di antara sesama. Waktu dan ruang telah menempatkan kita pada sebuah wadah, Kita adalah bangsa Indonesia. Tidak masalah logat keras Suku Batak, tidak masalah tutur halus Suku Jawa, tidak masalah kulit hitam Suku Dayak. Sekali lagi kita adalah bangsa Indonesia. Ingatlah itu maka  tidak akan ada kelompok yang mengatas namakan suku agama, suku, dan warna kulit untuk menebar teror.

  1. KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG TINGGI BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA

Kembali lagi pada keragaman di Negara Indonesia. Jangan menjadikan perbedaan itu sebagai ajang menabur benih-benih teror. Kita anak muda Indonesia, pakai Bahasa Indonesia yang baik yang benar. Namun tidak pula mengesampingkan darimana daerah masing-masing. Tentu perlu belajar bahasa asing supaya diterima dunia internasional. Biarlah dari Sabang sampai Merauke dengan keunikan bahasanya. Bahasa Indonesia tetaplah media komunikasi kita saat duduk berbincang bersama. Dengan demikian akan tercipta keharmonisan. Itulah yang menjadi kekuatan anak muda dalam mencegah munculnya terorisme.

Peran anak muda seperti daun pada ranting pohon. Memaknai sumpah pemuda adalah cara memberikan sumbangsih peran serta pencegahan terorisme. Daun yang gugur akan berhenti memberi oksigen, tapi daun baru akan segera tumbuh pada ranting lain menggantikanya. Anak muda yang memaknai dan menerapkan Sumpah Pemuda akan menjadi wadah perdamaian sampai generasi berikutnya meneruskan perjuangan itu, Indonesia damai tanpa terorisme.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Categories: #DamaiDalamSumpahPemuda, Damai